Dewasa Adapun data mengenai kinerja bank umum di Indonesia

Dewasa ini investasi di pasar modal menjadi salah satu
cara berinvestasi yang banyak diminati oleh para investor di Indonesia.
Investasi saham di pasar modal memiliki daya tarik tersendiri bagi para investor, karena menjanjikan dua
keuntungan, yaitu dividen dan capital gain. Dividen ini umumnya
dibagikan kepada pemilik saham atas persetujuan pemegang saham, yang diperoleh
dari keuntungan yang dihasilkan oleh perusahaan tersebut. Sedangkan
capital gain sendiri
diperoleh dari selisih positif antara harga jual saham dengan harga beli saham
tersebut. Bagi perusahaan yang go public,
penjualan saham kepada investor merupakan salah satu cara mendapatkan modal
dari luar perusahaan untuk melakukan kegiatan operasional.

          Pasar
modal merupakan sarana yang digunakan untuk menyalurkan dananya yang bersumber
dari masyarakat ke berbagai sektor untuk 
melaksanakan aktivitas investasinya dalam bentuk surat–surat berharga.
Surat berharga yang diperjual belikan merupakan investasi jangka panjang, yaitu
saham, obligasi, waran, right, dan
berbagai instrumen derivatif seperti option,
futures dan lain-lain.

We Will Write a Custom Essay Specifically
For You For Only $13.90/page!


order now

          Saham adalah tanda bukti penyertaan kepemilikan modal atau dana perusahaan.
Setiap investor yang membeli sejumlah saham saat ini memiliki tujuan tertentu
yang ingin dicapainya melalui keputusan investasi diantaranya untuk mendapatkan
uang tambahan            atau               untuk       mengganti       penghasilan     utama.

          Pasar
modal di Indonesia di kelola oleh Bursa Efek Indonesia (BEI) atau Indonesian Stock Exchange (IDX). Bursa
Efek Indonesia memiliki peranan penting dalam perkembangan perekonomian negara,
karena dapat memberikan sarana bagi masyarakat umum untuk berinvestasi dan
sebagai sarana untuk mencari tambahan modal bagi perusahaan yang sudah go public.

          Salah satu
sektor yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia adalah sektor perbankan. Sektor
perbankan adalah salah satu lembaga yang berperan aktif dalam menunjang
kegiatan pembangunan nasional atau regional. Peran itu diwujudkan dalam fungsi
utamanya sebagai lembaga intermediasi
antara debitor dan kreditor.      Kondisi
industri perbankan di Indonesia 5 tahun terakhir stabil dan cenderung membaik.
Kinerja industri perbankan sejak masuk dalam pengawasan Otoritas
Jasa Keuangan (OJK) pada awal 2014 menunjukan kondisi pertumbuhan yang baik dengan
meningkatnya aset, permodalan, profitabilitas dan kondisi likuiditas. Kinerja
perbankan menjadi semakin prudent
berkat pengawasan OJK  yang ketat.

           Adapun data mengenai kinerja
bank umum di Indonesia dalam periode tahun 2012 – 2016 secara umum di sajikan
dalam tabel berikuit :

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Tabel 1.1 Kinerja Bank
Umum Indonesia 2012-2016

Indikator

Peeriode

2012

2013

2014

2015

2016

Aset
(Dalam miliar Rp)

 4.115.003

4.773.892

5.410.098

5.919.390

6.475.602

Tingkat
Pertumbuhan Aset(%)

11,23

13,80

11,75

8,60

8,58

NIM (net interest margin) (%)

5,49

4,89

4,23

5,39

6,83

NPL(non Performing loan) %)

1,85

1,78

2,16

2,49

3

Dana
Pihak Ketiga
(Dalam
Miliar Rp)

 3.302.719

3.663.968

4.114.420

4.413.056

4.836.758

Tingkat
Pertumbuhan Dana Pihak Ketiga (%)

15,67

9,86

10,94

6,76

8,76

BOPO
(%)

74,10

74,08

76,29

81,49

82,22

CAR (capital deqacy ratio) (%)

17,43

18,13

19,57

21,39

22,93

Sumber : www.ojk.go.id

 

          Berdasarkan
data dari tabel 1.1 diatas, menunjukkan aset bank umum periode 2012-2016 mengalami pertumbuhan
36,45% dari Rp4.115 triliun (2012) menjadi Rp6.475 triliun (2016), dengan
rata-rata pertumbuhan 10,79% per tahun. Peningkatan aset bank umum juga diikuti
peningkatan Dana Pihak Ketiga (DPK) tumbuh sebesar 31,71% menjadi Rp4.837
triliun (2016) dengan rata-rata pertumbuhan 10,39% per tahun. Net Interest Margin (NIM) bank umum
selama periode 2012-2016 fluktuatif, dari sebelumnya 5,49% (2012) menjadi 6,83% (2016)
meskipun tahun 2013-2015 mengalami penurunan. Penurunan ini disebabkan oleh
faktor likuiditas yang ketat dan menurunnya prospek bisnis sehingga bank
cenderung defensive dalam
menjalanakan bisnisnya. Kombinasi perlambatan pertumbuhan ekonomi dan
likuiditas yang ketat memaksa bank untuk mengurangi penyaluran kreditnya.
Resiko kredit juga menjadi rem dalam penyaluran kredit agar kualitas asset
produktif tetap terjaga (www.bisnis.com). Terjadi peningkatan BOPO Bank Umum selama periode 2012
– 2016, di mana pada 2012 BOPO berada pada posisi 74,10% dan pada 2016
meningkat menjadi 82,22%.

          Tingkat
Kesehatan Bank Umum selama periode 2012 – 2016 cukup terjaga dengan baik,
tercermin dari CAR dan NPL yang masih dalam rentang yang sehat. Tingkat
Kecukupan Modal (Capital Adequacy Ratio/CAR)
selama periode 2012 – 2016 mengalami peningkatan dari 17,43% (2012) menjadi
22,93% (2016). Nilai CAR ini jauh di atas ambang batas minimal yang diatur
dalam peraturan yaitu sebesar 8%. Non Performing
Loan (NPL) Bank Umum sedikit mengalami peningkatan selama periode 2012 –
2016. Namun demikian peningkatan tersebut masih dibawah threshold yaitu sebesar 5%. NPL
gross mengalami peningkatan dari 1,85% (2012) menjadi 2,93% (2016).
Sementara itu, NPL net sedikit mengalami peningkatan dari 0,89% (2012) menjadi
1,24% (2016). Peningkatan NPL itu sejalan dengan perlambatan penyaluran kredit
perbankan yang tumbuh sebesar 10,26% dari Oktober 2014.

             Beberapa rasio profitabilitas yang sering digunakan yaitu ROA (Return On Asset), ROE (Return On Equit), EPS (Earning Per Share),
NPM (Net Profit Margin), GPM (Gross Profit Margin) dan sebagainya. Bagi
investor informasi tentang ROA, ROE dan EPS menjadi kebutuhan yang sangat
mendasar dalam kebutuhan pengambilan keputusan. Informasi tersebut dapat
mengurangi ketidakpastian dan resiko yang mungkin terjadi, sehingga keputusan
yang diambil diharapkan akan sesuai dengan tujuan yang diinginkan.

          Return On Asset (ROA) menurut Simatupang (2010: 55) adalah rasio yang menggambarkan kemampuan perusahaan
untuk menghasilkan laba dari modal sendiri yang dimilikinya. Pada umumnya
semakin tinggi rasio ini semakin tinggi harga sahamnya.

          Menurut Kasmir (2011: 204) hasil pengembalian atas ekuitas atau Return On Equity (ROE) atau rentabilitas modal sendiri
merupakan rasio untuk mengukur laba bersih sesudah pajak dengan modal sendiri.
Rasio ini menunjukan efisiensi penggunaan modal sendiri. Semakin tinggi rasio
ini, semakin baik. Artinya posisi pemilik perusaan semakin kuat, demikian pula
sebaliknya. ROE yang tinggi mencerminkan bahwa perusahaan berhasil menghasilkan
keuntungan dari modalnya sendiri. ROE yang semakin tinggi akan menyebabkan
semakin tinggi pula harga saham, besarnya ROE menunjukkan tingkat pengembalian
yang akan diterima investor. Semakin tinggi ROE maka semakin tinggi juga return yang akan diterima investor akan
tinggi, sehingga investor akan tertarik untuk membeli saham perusahaan dan hal
ini akan menyebabkan harga pasar saham cenderung naik.

          Earning
per share (EPS) adalah
bentuk pemberian keunutngan yang diberikan kepada para pemegang saham dari
setiap lembar saham yang dimilikinya (Fahmi, 2015: 93). Informasi EPS suatu perusahaan menunjukkan besarnya
laba bersih perusahaan yang siap dibagikan bagi semua pemegang saham
perusahaan. Apabila earnings per share
(EPS) perusahaan tinggi, akan semakin banyak investor yang mau membeli saham
tersebut sehingga menyebabkan harga saham akan tinggi.

          Meskipun
kinerja industri perbankan cenderung membaik, tetapi dalam  periode 
tahun 2012 sampai dengan 2016, data hasil rata – rata rasio
profitabilitas dan harga saham sektor  perbankan yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia
 mengalami fluktuasi. Hal ini bisa
dilihat pada tabel berikut:

 

Tabel 1.2 Daftar
rata-rata  ROA, ROE, EPS dan Harga Saham
Perbankan
tahun

2012 – 2016

Tahun

ROA (%)

ROE (%)

EPS (%)

Harga Saham (Rp)

2012

1,54

13,90

157,53

1923,08

2013

1,22

10,29

149,00

1415,23

2014

0,91

6,30

133,90

1850,7

2015

0,63

2,42

123,91

1704,1

2016

0,12

1,08

104,70

1840,79

Sumber: www.idx.co.id

 

 

 

          Dari data
rata-rata tersebut dapat dilihat nilai ROA mengalami penurunan dari 1.53%
(2012) menjadi 0.126% (2016) yang menunjukkan penurunan laba perusahaan
perbankan dan mengidentifikasikan ada beberapa perusahaan perbankan yang
kinerjanya
kurang baik.. Yang perlu diperhatikan adalah penurunan ROA diikuti dengan
kenaikaan harga saham sebesar Rp1840,79 (2016) dibandingkan  pada tahun 2013 sebesar Rp1415,23
dengan  rata- rata
ROA yang mencapai 1,22%. Terjadi penurunan ROE dari 13,9% (2012) menjadi 1,089% (2016) , hal ini
diikuti dengan penurunan harga saham pada tahun 2012 sebesar Rp1923,08 menjadi Rp1840,79 pada tahun
2016. Hal yang menarik dicermati adalah pada tahun 2013 nilai ROE 10,29% lebih tinggi dibandingkan pada tahun 2016 (1,089%),
dengan harga saham tahun 2013  lebih
rendah yaitu sebesar Rp1415,23. Hal ini bertentangan dengan teori yang
menyatakan bahwa semakin tinggi ROE maka semakin tinggi harga saham.

          Pada periode 2012-2016 nilai EPS sektor perbankan juga mengalami penurunan
sebesar 52,83%. Pada tahun 2012 rata-rata EPS sektor perbankan mencapai 157,53%
dengan harga saham sebesar Rp1923,08 sedangkan pada tahun 2016 rata-rata EPS
perbankan menurun menjadi 104,7% dengan harga saham Rp1840,79. Dari data
tersebut dapat disimpulkan bahwa kenaikan ROA, ROE dan EPS belum tentu  membuat harga saham naik. Sebaliknya nilai
ROA, ROE, dan EPS yang rendah belum tentu membuat harga saham turun. Kondisi
ini juga dapat mempengaruhi investor dalam menentukan investasinya di
sektor  perbankan.

              Penelitian
terdahulu yang berhubungan dengan pengaruh rasio keuangan terhadap harga saham
adalah oleh Watung & Ilat (2015) yang meneliti tentang pengaruh  Return On
Asset (ROA), Net Profit Margin
(NPM), dan Earning Per Share
(EPS)  terhadap perubahan harga saham
pada perusahaan perbankan  Di Bursa Efek
Indonesia Periode 2011-2015. Hasil penelitian menunjukkan bahwa variabel ROA dan
EPS berpengaruh signifikan terhadap harga saham secara simultan dan parsial.
Sedangkan penelitian yang dilakukan oleh Valintino & Sularto (2013) tentang Pengaruh ROA, CR, ROE, DER, dan EPS terhadap
Harga Saham Perusahaan Manufaktur Sektor Industri Barang Konsumsi di BEI hasil penelitiannya
membuktikan bahwa secara parsial dapat
disimpulkan bahwa ada pengaruh yang signifikan antara ROE dan EPS terhadap
harga saham pada perusahaan manufaktur sektor industri barang konsumsi. Dan
tidak ada pengaruh secara parsial antara ROA terhadap harga saham pada
perusahaan manufaktur sektor industri barang konsumsi. Hasil penelitian
yang berbeda dilakukan oleh Tyas & Saputra (2016) tentang Analisis Pengaruh Profitabilitas Terhadap Harga Saham (Studi Kasus Perusahaan Telekomunikasi Yang
Terdaftar Di BEI  Periode 2012-2014
menunjukkan bahwa variabel ROE dan EPS
secara parsial tidak mempunyai pengaruh signifikan terhadap harga saham. Secara
simultan, variabel ROE dan EPS tidak memiliki pengaruh signifikan terhadap
harga saham.

          Berdasarkan
latar belakang masalah tersebut di atas, terdapat suatu kesenjangan (gap),
yaitu fenomena dan research antara
teori yang selama ini dianggap benar dan pengaruh antara Return
On Asset
(ROA), Return On Equity (ROE), dan Earning Per Share (EPS) terhadap harga
saham sektor perbankan. Sehingga membutuhkan penelitian lanjutan mengenai
masalah tersebut.

Berdasarkan latar belakang masalah yang telah diuraikan
diatas, maka peneliti tertarik untuk melakukan penelitian dengan judul :”PENGARUH ROA, ROE DAN EPS TERHADAP HARGA
SAHAM (Studi Pada Sektor Perbankan yang Terdaftar  Di Bursa Efek Indonesia Periode 2012-2016)”.

x

Hi!
I'm Mack!

Would you like to get a custom essay? How about receiving a customized one?

Check it out