Salah bahwa jenis penyakit jantung yang berbeda memerlukan jenis

Salah satu resiko kematian paling tinggi di dunia ialah gagal jantung, dimana jumlah pasien yang menderita gagal jantung meningkat dari tahun ke tahun. Walaupun pasien jantung dapat mengalami revaskularisasi melalui tindakan bypass, namun iskemik dapat muncul kembali setelah beberapa tahun setelah tindakan dan mengarah ke gagal jantung (Fisher et al., 2015). Masalah utama yang dihadapi pada penyakit jantung pada umumnya ialah hilangnya sel kardiomiosit yang tidak dapat diperbaiki, yang secara dinamis berkontribusi pada kontraktilitas dan relaksasi ventrikel jantung sehingga menurunkan kinerja jantung (Sun et al., 2016). Telah disepakati secara umum bahwa kapasitas regenerasi miokardium manusia sangat tidak memadai untuk mengkompensasi kehilangan berat otot jantung yang dipicu oleh infark miokard yang dahsyat atau penyakit miokard lainnya. Proliferasi kardiomiosit berperan dalam regenerasi jantung pada beberapa vertebrata, namun kapasitas proliferasi sel ini terbatas pada jantung mamalia dewasa (Segers and Lee, 2008).

 

Berbeda dengan organ hati, organ jantung tidak memiliki kemampuan untuk beregenerasi secara spontan sekali mengalami kerusakan. Pada kasus infark, umumnya manusia akan kehilangan sekitar 1 milyar sel kardiomiosit pada jantungnya (Reinecke et al., 2008). Kardiomiosit yang hilang akibat kerusakan pada jaringan jantung akan digantikan oleh fibroblas dan jaringan ikat dengan sisa kardiomiosit yang ada sehingga menjadi hipertropik yang pada akhirnya akan menyebabkan gagal jantung. Terapi tradisional tidak mengatasi masalah kehilangan kardiomiosit yang hanya dapat ditangani dengan transplantasi jantung yang masih terbatas di ketersediaan donor, kecocokan organ  dan besarnya biaya yang dikeluarkan. Mengingat efek paliatif yang agak kuratif dari perawatan ini, telah dieksplorasi terapi alternatif baru selama lebih dari satu dekade yang meliputi terapi gen, protein dan sel induk atau stem cell (Sun et al., 2016). Secara khusus, terapi stem cell telah menjadi titik fokus baru untuk pengobatan gangguan kardiovaskular.  Stem cell  dapat berproliferasi dengan baik dan dapat diarahkan menjadi tipe sel tertentu seperti kardiomiosit. Studi preklinis pada hewan coba menunjukkan bahwa pemberian stem cell meningkatkan fungsi perfusi serta ventrikel jantung, dan uji klinis menunjukkan kelayakan dan keamanan terapi stem cell untuk penyakit jantung (Puliafico, Penn and Silver, 2013). Jenis sel yang paling optimal untuk mengobati penyakit jantung masih terus diperdebatkan. Belum ada satu tipe sel yang ideal dan dapat digunakan secara khusus. Tidak menutup kemungkinan bahwa jenis penyakit jantung yang berbeda memerlukan jenis sel yang berbeda pula (Puliafico, Penn and Silver, 2013). Para peneliti masih menyelidiki stem cell endogenus maupun eksogenus yang dapat berdiferensiasi menjadi sel kardiomiosit maupun menggantikan myocardium yang hilang. Hasil dari penelitian sementara menunjukkan bahwa berbagai macam stem cell dari berbagai sumber memiliki potensi kardiak, seperti stem cell embrionik dan stem cell yang berasal dari jaringan dewasa (sumsum tulang, darah perifer, jaringan lemak, dan jaringan jantung itu sendiri) (Reinecke et al., 2008). Mesenchymal stem cell (MSC) merupakan stem cell multipotent yang umum ditemukan pada semua jaringan sumber stem cell. Terapi penyakit jantung dengan menggunakan MSC juga sudah banyak diterapkan pada beberapa uji klinis di dunia. Selain kemampuannya yang dapat berdiferensiasi menjadi sel target untuk menggantikan sel pada jaringan yang rusak, MSC juga mempunyai efek parakrin yang dapat membantu proses perbaikan luka dan jaringan di dalam tubuh manusia. Dengan memiliki kemampuan untuk berdiferensiasi menjadi kardiomiosit, potensi tersebut semakin banyak digunakan untuk meminimalisasi efek lesi iskemik-hipoksia pada organ jantung (Carvalho et al., 2012). Oleh karena itu perlu dilakukan pengembangan terapi regenerative jantung melalui MSC yang didiferensiasi menjadi sel kardiomiosit sehingga dapat menggantikan sel target yang hilang dan meningkatkan kembali kinerja jantung. MSC yang dipapar dengan agen metilasi DNA, seperti 5-azacytidine, menunjukkan bahwa sel tersebut mengekspresikan beberapa marker jantung serta memiliki fungsi seperti sel miosit. Namun senyawa 5-azacytidine mempunyai efek yang tidak dapat dikatakan aman untuk penggunaan klinis pada manusia. Planat-Bérnard pada tahun 2004 mengembangkan metode spontan untuk diferensiasi MSC menjadi kardiomiosit mengggunakan beberapa factor pertumbuhan seperti insulin, transferrin, IL-3, IL-6, dan stem cell factor. Sel kardiomiosit yang dihasilkan, pada saat diinjeksikan ke organ jantung yang mengalami infark, sel-sel tersebut menunjukan kontribusi pada proses remodelisasi miokardial, mengurangi ukuran infark, pembentukan jaringan parut, reparasi vascular, angiogenesis, perekrutan factor regenerasi, menginduksi stem cell homing, serta memfasilitasi regenerasi miosit residen. Jaringan tali pusat merupakan jaringan kaya MSC yang didapatkan pada proses kelahiran bayi dan umumnya menjadi limbah rumah sakit. Melihat potensi tersebut maka jaringan tali pusat dapat dimanfaatkan semaksimal mungkin dengan mengisolasi MSC dan didiferensiasi menjadi sel kardiomiosit yang dapat digunakan untuk pengobatan penyakit jantung.

We Will Write a Custom Essay Specifically
For You For Only $13.90/page!


order now
x

Hi!
I'm Mack!

Would you like to get a custom essay? How about receiving a customized one?

Check it out